Munarman Pungo

Temanku, sebut saja namanya Pozan, pulang ke Takengon. Dia mengantar istrinya pulang kampung. Tak lama dia di sana, hanya dua hari saja. Saat kembali, sang istri berpesan, agar tak lupa menyiram bunga Adenium di rumah sekembali nanti.

“Bang, bunganya disiram ya, jangan sampai kering tuh bunga,” begitu kata istrinya.

Kembali ke Banda Aceh. Si temanku ini asik dengan kesibukan lain. Kerja kantoran, update blog, desain baju, desain spanduk dan baliho. Pokoknya desain segala desain lah. Dia pun lupa pada pesan istrinya.

Hingga suatu sore yang dingin itu, di sela-sela update blog, dia membuka facebook, mainan lamanya. Dia pun tertegun dan kaget. Apa pasal? Rupanya, hari itu, dari pagi hingga sore (bahkan malam), rata-rata status facebook teman-temannya soal siram-disiram-menyiram. Teman-temannya sedang berbicara soal aksi tak patut juru bicara Laskar Jihad, Munarman, SH. Dalam dialog di sebuah stasiun TV, Munarman yang pernah aktif di beberapa lembaga bantuan hukum itu menyiram muka sosiolog Universitas Indonesia (UI) Tamrin Amal Tomagola. Mereka berdebat sengit sebelum aksi siram itu terjadi.

“Itu bentuk visualisasi aksi premanisme.” Begitu komentar beberapa orang yang berkomentar di jejaring sosial menyusul aksi mantan aktivis itu.

Nah, status teman-temannya itu seperti ilham plus warning bagi Pozan. Gara-gara membaca kata siram, dia pun langsung teringat pada pesan istrinya untuk menyiram bunga. Dia pun bergegas melakukannya. Dia menyiram bunga dalam pot itu yang mulai kering-kerontang. Satu pekerja ringan tuntas sudah.

Cerita siram bunga itu muncul saat saya sampaikan bahwa saya mau menulis posting Munarman Pungo.

Oh ya, ada cerita lain yang mau saya ceritakan, sebenarnya. Begini ceritanya:

Di kota saya ada sebuah masjid yang ramai dikunjungi. Tiap sore, warga yang datang membludak, terutama pas weekend. Di depan masjid kebanggaan tersebut terdapat sebuah kolam. Anak-anak (bahkan orang dewasa) sering menghabiskan waktu bercengkrama dengan ikan mas. Tapi, sejak beberapa minggu terakhir, ada pemandangan aneh di sekitar kolam itu.

Dibilang aneh, karena tiap sore seorang remaja, berpakaian sedikit kumal, selalu kencing di kolam itu. Dia sama sekali tak risih dengan para pengunjung. Padahal, orang yang mengelilingi kolam itu sangat ramai. Dia cuek saja. Beberapa pengunjung pernah menegur si remaja itu, namun kelakuannya tak juga berubah. Pengunjung kemudian melaporkan kejadian aneh itu kepada petugas Satpam masjid. Remaja itu dipanggil dan dinasehati agar tak boleh kencing di kolam masjid. Toilet untuk pengunjung sudah tersedia di sebelah utara dan selatan masjid.

Bukannya mereda. Malah, tiap sore si remaja itu masih kencing di kolam. Sehingga kian meresahkan. Para orang tua makin takut jika anak-anaknya duduk terlalu dekat dengan si remaja itu. Takut terjadi sesuatu.

Satpam masjid juga sudah hilang kesabaran. Mereka berniat menangkapnya lagi. Tapi beberapa kali dicoba, remaja itu selalu bisa meloloskan diri dengan  meloncat pagar masjid. Hingga, Satpam mencari cara bagaimana menangkap si remaja. Mereka pun atur siasat. Kali ini tak boleh lagi remaja itu bisa meloloskan diri. Pengunjung pun diajak bekerja sama.

Tibalah pada hari strategi itu dilaksanakan. Seperti biasa, si remaja itu kencing di kolam masjid. Dia tak punya firasat apa-apa. Beberapa orang pengunjung seperti tak peduli lagi sama remaja itu. Sehingga si remaja ini tak merasa takut ditangkap seperti yang sudah-sudah. Beberapa pengunjung mendekat, duduk di dekat remaja itu. Mereka pura-pura memberi makan ikan mas di kolam. Begitu si remaja hendak kencing untuk kedua kali, pengunjung dari sisi satu lagi mendekat. Mereka sudah bersiap-siap menangkap. Remaja itu tak berkutik.

Satpam juga sudah ada di dekat mereka. Remaja itu dibawa ke pos Satpam dekat pintu masuk. Di sana, si remaja ini diinterogasi. Ditanya orang mana, tinggal di mana, siapa orang tuanya. Dia juga ditanya sekolah di mana, namanya siapa? Awalnya, pertanyaan itu tak satupun mau dijawabnya. Tetapi setelah didesak berkali-kali, di bawah ancaman, barulah dia mau buka suara. Dia ternyata mengalami gangguan jiwa.

“Nama saya Munarman, pak!” Jawab dia singkat. Orang-orang di pos Satpam itu pun saling berpandangan. Tak tahu harus bilang apa.

“Alahai Munarman Pungo!” umpat beberapa orang yang hadir. []

Sumber gambar di SINI

BBM Pungo

BBM naik daun. Di mana-mana orang bicara soal kenaikan BBM (bahan bakar minyak). Tak kecuali di warung kopi di seputaran Ulee Kareng, Banda Aceh. Di warung kopi yang terkenal dengan tempat update (memperbaharui) fitnah itu, pembicaraan soal BBM cukup hangat dan fresh. Hal ini wajar, karena pengunjung warung ini rata-rata politisi, aktivis LSM, wartawan, kontraktor, pengacara dan orang-orang HTW lainnya. (HTW=han troh wa/tak sampai dipeluk).

Terjadilah pembicaraan lintas profesi.

Politisi: kenaikan harga BBM memang tak dapat dielak. Selama ini yang menikmati sumsidi BBM kan orang-orang kaya yang punya mobil mewah. Bayangkan biaya produksi BBM Premium itu sekitar Rp10.000, dan dijual Rp4.500 (di tempat eceran Rp5.000). Pemerintah memberikan subsidi Rp5.500 per liter. Nah, siapa yang menikmati subsidi paling banyak?

Tak ada yang menjawab. Masing-masing orang di warung itu asyik sendiri, ada yang pura-pura berhitung. Banyak juga yang lebih senang memelototi layar Blackberry (BB)-nya. Yang pura-pura berhitung, langsung menjawab. Orang ini ternyata aktif di sebuah LSM di Banda Aceh.

Aktivis LSM: Benar, memang subsidi itu lebih banyak dinikmati oleh orang kaya yang punya banyak mobil. Misalkan saja mereka mengisi tangki yang kapasitasnya 35 liter, berarti mereka menikmati subsidi Rp150.000 sekali isi. Bandingkan dengan pemilik sepeda motor, sekali isi 3 liter berarti mereka hanya menikmati subsidi Rp15.000 per sekali isi.

Diskusi sangat menarik sebenarnya. Tapi, fokus teman-teman yang mengerubungi meja itu pada layar BB masing-masing. Mereka kadang-kadang senyum sendiri, kadang tertawa lepas. Tak sedikit pula yang memasang wajah cemberut. Bisa jadi pesan yang dikirimnya tak mendapat balasan.

Lain lagi teman wartawan. Mereka tak terlalu memikirkan soal kenaikan BBM. Mereka lebih peduli pada nasib teman mereka di Jambi dan Pontianak yang terkena tembakan polisi saat membubarkan massa yang berunjuk-rasa menolak kenaikan BBM.

Wartawan: jurnalis yang bekerja di lapangan sangat minim perlindungan. Pihak kantor mereka tak menyediakan fasilitas yang bisa melindungi karyawannya dalam meliput di medan yang terlalu berisiko. Pemilik makin kapitalis, hanya memikirkan keuntungan semata. Mereka bukannya memikirkan kesejahteraan jurnalis, tapi asyik bikin Forum Pemred hanya mengampanyekan merek kondom Meoong! Tahi buah lah semua!

Si wartawan ini kebetulan hanya seorang koresponden yang bekerja untuk sebuah media di Jakarta. Wajar jika dia emosi. Tak hanya gaji yang kecil, tapi kadang-kadang laporan yang dikirim belum tentu mendapat prioritas untuk tayang, karena kantornya memilih big-news dengan dampak besar.

Hari makin sore. Pembicaraan makin tak jelas lagi juntrungannya. Masing-masing sibuk cang-panah sendiri. Tak tahu lagi, siapa mendengarkan siapa. Karena, meski berkelompok, ternyata topik yang dibicarakan di meja itu berbeda-beda. Pembicaraan sangat tergantung micro-phone siapa yang paling besar terdengar, maka omongan dialah yang paling dominan.

Si kontraktor yang dari tadi hanya asik dengan BB sendiri, tiba-tiba berjingkrak. Dia tertawa lebar. Rupanya, sebuah pesan broadcast (Blackberry Messenger/BBM) yang menjadi penyebabnya. Tak ingin tertawa sendiri, dia pun membaca keras-keras isi pesan yang baru diterimanya. Kali ini, yang lain tekun menyimak. Begini isi BBM-nya:

Sari mengadu pada Ibunya tentang hal buruk yang menimpanya.

Sari: (dalam kondisi ketakutan). Ibu, bapak kemana?

Ibu: ke luar kota. Ada apa tanya bapak?

Sari: (dengan nada pelan). Sari minta maaf bu, sepertinya Sari hamil.

Ibu: (setengah kaget). Apa..!!? Apa kamu bilang?

Sari: (gemetaran). Iya, saya hamil bu! Ini…(sambil mengelus-elus perut)

Ibu: Aaah…nggak mungkin. Kamu mungkin sakit. Istirahat saja, nanti sembuh sendiri.

Sari: Tapi akhir-akhir ini, saya sering muntah-muntah, bu!

Ibu: (rada cuek). Aah…mana ada, paling kamu masuk angin. Ke sana, gih beli minyak angin sana, biar cepat sembuh.

Sari: (tersedu)…hiks…hiks. Kenapa ibu tak percaya, saya sekarang tuh doyan makanan yang asam-asam, bu!

Ibu: (dengan kesal sambil teriak). Berhentilah kamu berkhayal SARIFUDDIN! Ibu tempeleng kamu nanti, baru tahu rasa. Bencong mana pula ada rahim. (Rupanya, Sarifuddin ini seorang waria. Dia lebih senang dipanggil Sari)

Satu meja mereka tertawa lepas. Mereka pun sepakat untuk bubar. “Mudah-mudahan dana kompensasi Rp155 miliar untuk korban lumpur Lapindo biar nyasar ke Sarifuddin yang jauh di Aceh,” celetuk pengacara seperti menyindir Golkar yang setuju BBM naik. Suaranya cuku jelas. Sekali lagi mereka tertawa. Benar-benar BBM Pungo. [] 

Sumber gambar di SINI

Dewan Pungo

Dua hari sebelum Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) RI menggelar Sidang Paripurna tentang kenaikan BBM (Bukan Blackberry Messenger, red), beberapa anggota dewan terhormat yang pulang ke dapil buru-buru balik ke Jakarta. Mereka yang sedang membangun citra tak mau rusak gara-gara tak ikut sidang. Mereka pun cepat-cepat memesan tiket agar segera tiba di Jakarta.

Nah, ketika tiba di ruang tunggu pesawat. Si anggota dewan ini, sebutlah namanya Si Pulan, bertemu dengan Apa Pungo. Terjadilah percapakan seperti ini:

SP: Waduh, kenapa pesawatnya telat datang, ya?
AP: Bapak bicara dengan saya? (saking lugunya)
SP: Yah, dengan siapa lagi, kan cuma kamu yang duduk di samping saya.
AP: Hehe, bapak pintar dan kritis. Wah, pasti wakil rakyat, ya?
SP: Hehe juga. Kok tahu?
AP: Tahu donk, kan saya rakyat! Lagi pula, ada gambar pin kebanggaan DPR di kantong bapak.

Obrolan berhenti ketika terdengar pengumuman bahwa pesawat jurusan Jakarta sudah tiba dan kepada penumpang segera naik ke pesawat. Satu-per-satu calon penumpang itu bangkit dari tempat duduk. Ramai bukan main. Mungkin di antara mereka ada juga wakil rakyat, seperti Si Pulan itu. Mereka pun antri di pintu keluar ruang tunggu. Masing-masing pegang tikat di tangan. Tak ada yang diperlakukan istimewa. Semua harus antri, termasuk Si Pulan yang kebagian antrian agak ke belakang.

Tak lama, semua calon penumpang itu sudah keluar dari ruang tunggu dan menuju ke pesawat. Masing-masing menuju ke tempat duduk seperti tertera pada tiket. Si Pulan dengan tergopoh-gopoh menaiki tangga pesawat dari pintu belakang. Sampai di pesawat, di lorong itu sudah cukup banyak orang yang mencari tempat duduk. Si Pulan pun memilih duduk di kursi belakang.

“Duh, senang rasanya bisa beristirahat,” gumam dia dalam hati.

Saat berniat memejamkan mata, si Pramugari  datang menghampiri. Pasalnya, kursi yang diduduki Si Pulan itu jatah orang lain. Dengan sopan, si Pramugari meminta lihat tiket Si Pulan.

“Bapak, tempat duduk anda bukan di sini. Ini tempat duduk orang lain,” kata si Pramugari sembari menunjuk ke penumpang yang sedang kebingungan.

“Kenapa saya tak boleh duduk di sini? Saya kan memiliki tiket,” jawab Si Pulan seperti tak merasa bersalah.

“Tempat duduk Bapak ada di depan, di kelas Eksekutif,” si Pramugari memberi alasan sembari menunjukkan nomor kursi yang tertulis di tiket.

ilustrasi
Bapak itu marah-marah, tapi tak sampai memukuli si Pramugari dengan Koran yang dipegangnya. Sambil berdiri, dia mengomel bahwa si Pramugari tidak tahu siapa dirinya.

“Saya ini bukan Eksekutif. Saya Legislatif!” katanya sembari memperlihatkan lencana ke muka Pramugari yang tak habis pikir.


Dari jauh, Si Pungo, tersenyum sendiri melihat adegan itu. Dalam hatinya bergumam, “Dasar Dewan Pungo.” []

Sumber gambar di SINI

Kolom: “Esai dengan Gaya”

Oleh Farid Gaban, Majalah TEMPO*

PENGANTAR
Dalam dunia sastra, esai dimasukkan dalam kategori non-fiksi, untuk membedakannya dengan puisi, cerpen, novel dan drama yang dikategorikan sebagai fiksi.

Membuka halaman-halaman koran atau majalah, kita akan menemukan banyak esai atau opini. Tulisan-tulisan itu punya karakteristik sebagai berikut:

- OPINI: mewakili opini si penulis tentang sesuatu hal atau peristiwa.
- SUBYEKTIFITAS: memiliki lebih banyak unsur subyektifitas, bahkan jika tulisan itu dimaksudkan sebagai analisis maupun pengamatan yang “obyektif”.

- PERSUASIF: memiliki lebih banyak unsur imbauan si penulis ketimbang sekadar paparan “apa adanya”. Dia dimaksudkan untuk mempengaruhi pembaca agar mengadopsi sikap dan pemikiran penulis, atau bahkan bertindak sesuai yang diharapkan penulis.

Meskipun banyak, sayang sekali, tulisan-tulisan itu jarang dibaca. Dalam berbagai survai media, rubrik opini dan editorial (OP-ED) umumnya adalah rubrik yang paling sedikit pembacanya. Ada beberapa alasan:

- SERIUS dan PANJANG: orang mengganggap tulisan rubrik opini terlampau serius dan berat. Para penulis sendiri juga sering terjebak pada pandangan keliru bahwa makin sulit tulisan dibaca (makin teknis, makin panjang dan makin banyak jargon, khususnya jargon bahasa Inggris) makin tinggi nilainya, bahkan makin bergengsi. Keliru! Tulisan seperti itu takkan dibaca orang banyak.

- KERING: banyak tulisan dalam rubrik opini cenderung kering, tidak “berjiwa”, karena penulis lagi-lagi punya pandangan keliru bahwa tulisan analisis haruslah bersifat dingin: obyektif, berjarak, anti-humor  dan tanpa bumbu.

- MENGGURUI: banyak tulisan opini terlalu menggurui (berpidato, berceramah, berkhotbah), sepertinya penulis adalah dewa yang paling tahu.

- SEMPIT: tema spesifik umumnya ditulis oleh penulis yang ahli dalam bidangnya (mungkin seorang doktor dalam bidang yang bersangkutan). Tapi, seberapa pun pintarnya, seringkali para penulis ahli ini terlalu asik dengan bidangnya, terlalu banyak menggunakan istilah teknis, sehingga tidak mampu menarik pembaca lebih luas untuk menikmatinya.

KOLOM: “ESSAY WITH STYLE”
Berbeda dengan menulis untuk jurnal ilmiah, menulis untuk koran atau majalah adalah menulis untuk hampir “semua orang”. Tulisan harus lebih renyah, mudah dikunyah, ringkas, dan menghibur (jika perlu), tanpa kehilangan kedalaman—tanpa terjatuh menjadi tulisan murahan.

Bagaimana itu bisa dilakukan? Kreatifitas. Dalam era kebebasan seperti sekarang, seorang penulis dituntut memiliki kreatifitas lebih tinggi untuk memikat pembaca. Pembaca memiliki demikian banyak pilihan bacaan. Lebih dari itu, sebuah tulisan di koran dan majalah tak hanya bersaing dengan tulisan lain di koran/majalah lain, tapi juga dengan berbagai kesibukan yang menyita waktu pembaca: pekerjaan di kantor, menonton televisi, mendengar musik di radio, mengasuh anak dan sebagainya.
Mengingat “reputasi” esai sebagai bacaan serius, panjang dan melelahkan, tantangan para penulis esai lebih besar lagi. Dari situlah kenapa belakangan ini muncul “genre” baru dalam esai, yakni “creative non-fiction”, atau non-fiksi yang ditulis secara kreatif.

Dalam “creative non-fiction”, penulis esai mengadopsi teknik penulisan fiksi (dialog, narasi, anekdot, klimaks dan anti klimaks, serta ironi) ke dalam non-fiksi. Berbeda dengan penulisan esai yang kering dan berlagak obyektif, “creative non-fiction” juga memungkinkan penulis lebih menonjolkan subyektifitas serta keterlibatan terhadap tema yang ditulisnya. Karena memberi kemungkinan subyektifitas lebih banyak, esai seperti itu juga umumnya menawarkan kekhasan gaya (“style”) serta personalitas si penulis.

Di samping kreatif, kekuatan tulisan esai di koran atau majalah adalah pada keringkasannya. Tulisan itu umumnya pendek (satu halaman majalah, atau dua kolom koran), sehingga bisa ditelan sekali lahap (sekali baca tanpa interupsi).

PENULISAN KOLOM INDONESIA
“Creative non-fiction” bukan “genre” yang sama sekali baru sebenarnya. Pada dasawarsa 1980-an dan awal 1990-an kita memiliki banyak penulis esai/kolom yang handal, mereka yang sukses mengembangkan “style” dan personalitas dalam tulisannya. Tulisan mereka dikangeni karena memiliki sudut pandang orisinal dan ditulis secara kreatif, populer serta “stylist”.

Para penulis itu adalah: Mahbub Junaedi, Goenawan Mohamad, Umar Kayam, YB Mangunwijaya, MAW Brower, Syubah Asa, Dawam Rahardjo, Abdurrahman Wahid, Arief Budiman, Mochtar Pabottingi, Rosihan Anwar, dan Emha Ainun Nadjib.

Untuk menunjukkan keluasan tema, perlu juga disebut beberapa penulis esai/kolom lain yang menonjol pada era itu: Faisal Baraas (kedokteran-psikologi), Bondan Winarno (manajemen-bisnis), Sanento Juliman (seni-budaya), Ahmad Tohari (agama), serta Jalaluddin Rakhmat (media dan agama).
Bukan kebetulan jika sebagian besar penulis esai-esai yang menarik itu adalah juga sastrawan—penyair dan cerpenis/novelis. Dalam “creative non-fiction” batas antara fiksi dan non-fiksi memang cenderung kabur. Bahkan Bondan (ahli manajemen) dan Baraas (seorang dokter) memiliki kumpulan cerpen sendiri. Dawam juga sesekali menulis cerpen di koran.

Namun, pada dasawarsa 1990-an kita kian kehilangan penulis seperti itu. Kecuali Goenawan (“Catatan Pinggir”), Bondan (“Asal-Usul” di Kompas) dan Kayam (Sketsa di Harian “Kedaulatan Rakyat”), para penulis di era 1980-an  sudah berhenti menulis (Mahbub, Romo Mangun, Sanento dan Brower sudah almarhum).

Pada era 1990-an ini, kita memang menemukan banyak penulis esai baru—namun inilah era yang didominasi oleh penulis pakar ketimbang sastrawan. Faisal dan Chatib Basri (ekonomi), Reza Sihbudi, Smith Alhadar (luar negeri, dunia Islam), Wimar Witoelar (bisnis-poilik), Imam Prasodjo, Rizal dan Andi Malarangeng, Denny JA, Eep Saefulloh Fatah (politik) untuk menyebut beberapa. Namun, tanpa mengecilkan substansi isinya, banyak tulisan mereka umumnya “terlalu serius” dan kering. Eep barangkali adalah salah satu pengecualian; tak lain karena dia juga sesekali menulis cerpen.

Sementara itu, kita juga melihat kian jarang para sastrawan muda sekarang menulis esai, apalagi esai yang kreatif. Arswendo Atmowiloto, Ayu Utami dan Seno Gumiro Adjidarma adalah pengecualian.
Padahal, sekali lagi, mengingat “reputasi” esai sebagai bacaan serius (panjang dan melelahkan), tantangan kreatifitas para penulis esai lebih besar lagi. 

TUNTUTAN BAGI SEORANG PENULIS KOLOM
Kenapa esai astronomi Stephen Hawking (“A Brief History of Time”), observasi antropologis Oscar Lewis (“Children of Sanchez”) dan skripsi Soe Hok Gie tentang Pemberontakan Madiun (“Orang-orang di Persimpangan Kiri Jalan”) bisa kita nikmati seperti sebuah novel? Kenapa tulisan manajemen Bondan Winarno (“Kiat”) dan artikel kedokteran-psikologi Faisal Baraas (“Beranda Kita”) bisa dinikmati seperti cerpen?

Hawking, Lewis, Hok Gie, Bondan dan Baraas adalah beberapa penulis “pakar” yang mampu mentrandensikan tema-tema spesifik menjadi bahan bacaan bagi khalayak yang lebih luas. Tak hanya mengadopsi teknik penulisan populer, mereka juga menerapkan teknik penulisan fiksi secara kreatif dalam esai-esai mereka.

Untuk mencapai ketrampilan penulis semacam itu diperlukan sejumlah prasyarat dan sikap mental tertentu:

Keingintahuan dan Ketekunan:
Sebelum memikat keingintahuan pembaca, mereka harus terlebih dulu “memelihara” keingintahuannya sendiri akan sesuatu masalah. Mereka melakukan riset, membaca referensi di perpustakaan, mengamati di lapangan bahkan jika perlu melakukan eksperimen di laboratorium untuk bisa benar-benar menguasai tema yang akan mereka tulis. Mereka tak puas hanya mengetahui hal-hal di permukaan, mereka tekun menggali. Sebab, jika mereka tidak benar-benar paham tentang tema yang ditulis, bagaimana mereka bisa membaginya kepada pembaca?

Kesediaan untuk berbagi:
Mereka tak puas hanya menulis untuk kalangan sendiri yang terbatas atau hanya untuk pembaca tertentu saja. Mereka akan sesedikit mungkin memakai istilah teknis atau jargon yang khas pada bidangnya; mereka menggantikannnya dengan anekdot, narasi, metafora yang bersifat lebih universal sehingga tulisannya bisa dinikmati khalayak lebih luas. Mereka tidak percaya bahwa tulisan yang “rumit” dan sulit dibaca adalah tulisan yang lebih bergengsi. Mereka cenderung memanfaatkan struktur tulisan sederhana, seringkas mungkin, untuk memudahkan pembaca menelan tulisan. 

Kepekaan dan Keterlibatan:
Bagaimana bisa menulis masalah kemiskinan jika Anda tak pernah bergaul lebih intens dengan kehidupan gelandangan, pengamen jalanan, nelayan dan penjual sayur di pasar?

Seorang Soe Hok Gie mungkin takkan bisa menulis skripsi yang “sastrawi” jika dia bukan seorang pendaki gunung yang akrab dengan alam dan suka merenungkan berbagai kejadian (dia meninggal di Gunung Semeru).

Menulis catatan harian serta membuat sketsa dengan gambar tangan maupun tulisan seraya kita bergaul dengan alam dan lingkungan sosial yang beragam mengasah kepekaan kita. Kepekaan terhadap ironi, terhadap tragedi, humor dan berbagai aspek kemanusiaan pada umumnya.

Sastra (novel dan cerpen) kita baca bukan karena susunan katanya yang indah melainkan karena dia mengusung nilai-nilai kemanusiaan.

Kekayaan Bahan (resourcefulness):
Meski meminati bidang yang spesifik, penulis esai yang piawai umumnya bukan penulis yang “berkacamata kuda”. Dia membaca dan melihat apasaja. Hanya dengan itu dia bisa membawa tema tulisannya kepada pembaca yang lebih luas. Dia membaca apa saja (dari komik sampai filsafat), menonton film (dari India sampai Hollywood), mendengar musik (dari dangdut sampai klasik). Dia bukan orang yang tahu semua hal, tapi dia tak sulit harus mencari bahan yang diperlukannya: di perpustakaan mana, di buku apa, di situs internet mana.

Kemampuan Sang Pendongeng (storyteller):
Cara berkhotbah yang baik adalah tidak berkhotbah. Persuasi yang berhasil umumnya disampaikan tanpa pretensi menggurui. Pesan disampaikan melalui anekdot, alegori, metafora, narasi, dialog seperti layaknya dalam pertunjukan wayang kulit.

APA SAJA YANG BISA DIJADIKAN TEMA ESAI?
Kebanyakan penulis pemula mengira hanya tema-tema sosial-politik yang bisa laku dijual di koran. Mereka juga keliru jika menganggap tema-tema seperti itu saja yang membuat penulis menjadi memiliki gengsi.

Semua hal, semua aspek kehidupan, bisa ditulis dalam bentuk esai yang populer dan diminati pembaca. “Beranda Kita”-nya Faisal Baraas menunjukkan bahwa tema kedokteran dan psikologi bisa disajikan untuk khalayak pembaca awam sekalipun.

Ada banyak penulis yang cenderung bersifat generalis, mereka menulis apa saja. Namun, segmentasi dalam media dan kehidupan masyarakat sekarang ini menuntut penulis-penulis spesialis.
-   Politik lokal (bersama maraknya otonomi daerah)
-   Bisnis (industri, manajemen dan pemasaran)
-   Keuangan (perbankan, asuransi, pajak, bursa saham, personal finance)
-   Teknologi Informasi (internet, komputer, e-commerce)
-   Media dan Telekomunikasi
-   Seni-Budaya (film, TV, musik, VCD, pentas)
-   Kimia dan Fisika Terapan
-   Elektronika
-   Otomotif
-   Perilaku dan gaya hidup
-   Keluarga dan parenting
-   Psikologi dan kesehatan
-   Arsitektur, interior, gardening
-   Pertanian dan lingkungan

Pilihlah tema apa saja yang menjadi minta Anda dan kuasai serta ikuti perkembangannya dengan baik. Fokus, tapi jangan gunakan kacamata kuda.

TEKNIK PENULISAN KOLOM
Mencari ide tulisan
Ada banyak sekali tema di sekitar kita. Namun kita hanya bisa menemukannya jika memiliki kepekaan. Jika kita banyak melihat dan mengamati lingkungan, lalu menuliskannya dalam catatan harian, ide tulisan sebenarnya “sudah ada di situ” tanpa kita perlu mencarinya.

Tema itu bahkan terlalu banyak sehingga kita kesulitan memilihnya. Untuk mempersempti pilihan, pertimbangkan aspek signifikansi (apa pentingnya buat pembaca) dan aktualitas (apakah tema itu tidak terlampau basi).

Merumuskan masalah
Esai yang baik umumnya ringkas (“Less is more” kata Ernest Hemingway) dan fokus. Untuk bisa menjamin esai itu ditulis secara sederhana, ringkas tapi padat, pertama-tama kita harus bisa merumuskan apa yang akan kita tulis dalam sebuah kalimat pendek. 

Rumusan itu akan merupakan fondasi tulisan. Tulisan yang baik adalah bangunan arsitektur yang kokoh fondasinya, bukan interior yang indah (kata-kata yang mendayu-dayu) tapi keropos dasarnya.

Mengumpulkan Bahan
Jika kita rajin menulis catatan harian, sebagian bahan sebenarnya bisa bersumber pada catatan harian itu. Namun seringkali, ini harus diperkaya lagi dengan bahan-bahan lain: pengamatan, wawancara, reportase, riset kepustakaan dan sebagainya.

Menentukan bentuk penuturan
Beberapa tema tulisan bisa lebih kuat disajikan dalam bentuk dialog. Tapi, tema yang lain mungkin lebih tepat disajikan dengan lebih banyak narasi serta deskripsi yang diperkaya dengan anekdot. Beberapa penulis memilih bentuk penuturan yang ajeg untuk setiap tema yang ditulisnya:
-   Dialog (Umar Kayam)
-   Reflektif (Goenawan Mohamad)
-   Narasi (Faisal Baraas, Bondan Winarno, Ahmad Tohari)
-   Humor/Satir (Mahbub Junaedi)

Menulis
Tata Bahasa dan Ejaan: Taati tata bahasa Indonesia yang baku dan benar. Apakah ejaan katanya benar, di mana meletakkan titik, koma dan tanda hubung? Apakah koma ditulis sebelum atau sesudah penutup tanda kutip (jika ragu cek kebuku rujukan Ejaan Yang Disempurnakan).

Akurasi Fakta: tulisan nonfiksi, betapapun kreatifnya, bersandar pada fakta. Apakah peristiwanya benar-benar terjadi? Apakah ejaan nama kita tulisa secara benar? Apakah rujukan yang kita tulis sama dengan di buku atau kutipan aslinya? Apakah kita menyebutkan nama kota, tahun dan angka-angka secara benar?

Jargon dan Istilah Teknis: hindari sebisa mungkin jargon atau istilah teknis yang hanya dimengerti kalangan tertentu. Kreatiflah menggunakan deskripsi atau anekdot atau metafora untuk menggantikannya. Hindari sebisa mungkin bahasa Inggris atau bahasa daerah.

Sunting dan Pendekkan: seraya menulis atau setelah tulisan selesai, baca kembali. Potong kalimat yang terlalu panjang; atau jadikan dua kalimat. Hilangkan repetisi. Pilih frase kata yang lebih pendek: melakukan pembunuhan bisa diringkas menjadi membunuh. “Tidak” sering bisa diringkas menjadi “tak”, “meskipun” menjadi “meski” dan sebagainya.

Pakai kata kerja aktif: kata kerja aktif adalah motor dalam kalimat, dia mendorong pembaca menuju akhir, mempercepat bacaan. Kata kerja pasif menghambat proses membaca. Pakai kalimat pasif hanya jika tak terhindarkan.

Tak menggurui: meski Anda perlu menunjukkan bahwa Anda menguasai persoalan (otoritatif dalam bidang yang ditulis) hindari bersikap menggurui. Jika mungkin hindari kata “seharusnya”, “semestinya” dan sejenisnya. Gunakan kreatifitas dan ketrampilan mendongeng seraya menyampaikan pesan. Don’t tell it, show it.

Tampilkan anekdot: jika mungkin perkaya tulisan Anda dengan anekdot, ironi dan tragedi yang membuat tulisan Anda lebih “basah” dan berjiwa.
Jangan arogan: orang yang tak setuju dengan Anda belum tentu bodoh. Hormati keragaman pendapat. Opini Anda, bahkan jika Anda meyakininya sepenuh hati, hanya satu saja kebenaran. Ada banyak kebenaran di “luar sana”.

Uji Tulisan Anda: minta teman dekat, saudara, istri, pacar untuk membaca tulisan yang sudah usai. Dengarkan komentar mereka atau kritik mereka yang paling tajam sekalipun. Mereka juga seringkali bisa membantu kita menemukan kalimat atau fakta bodoh yang perlu kita koreksi sebelum diluncurkan ke media.

“MENJUAL” KOLOM KE MEDIA
Apa yang umumnya dipertimbangkan oleh redaktur esai/opini untuk memuat tulisan Anda?
Nama penulis: para redaktur tak mau ambil pusing, mereka umumnya akan cepat memilih penulis yang sudah punya nama ketimbang penulis baru. Jika Anda penulis baru, ini merupakan tantangan terbesar.

Tapi, bukankah tak pernah ada penulis yang “punya nama” tanpa pernah menjadi penulis pemula? Jangan segan mencoba dan mencoba jika tulisan ditolak. Tidak ada pula penulis yang langsung berada di puncak; mereka melewati tangga yang panjang dan terjal. Anda bisa melakukannya dengan menulis di media mahasiswa, lalu menguji keberanian di koran lokal sebelum menulis untuk koran seperti Kompas atau majalah Tempo.

Otoritas: redaktur umumnya juga lebih senang menerima tulisan dari penulis yang bisa menunjukkan bahwa dia menguasai masalah. Tidak selalu ini berarti sang penulis adalah master atau doktor dalam bidang tersebut.

Style dan Personalitas: tema tulisan barangkali biasa saja, tapi jika Anda menuliskannya dengan gaya “style” yang orisinal dan istimewa serta sudut pandang yang unik, kemungkinan besar sang redaktur akan memuatnya.

Populer: koran dan majalah dibaca oleh khalayak yang luas. Tema tulisan harus cukup populer bagi pembaca awam, tanpa kehilangan kedalaman. Bahkan seorang doktor dalam antropologi adalah pembaca awam dalam fisika. Kuncinya: tidak nampak bodoh dibaca oleh orang yang paham bidang itu, tapi tidak terlalu rumit bagi yang tidak banyak mendalaminya.

BAHAN BACAAN LANJUTAN

Teknik Penulisan
-   Argumentasi dan Narasi (Gorys Keraf)
-   Yuk, Menulis Cerpen, yuk (Mohammad Diponegoro)

Catatan Harian dan Korespondensi
-   Catatan Harian Soe Hok Gie
-   Surat-surat Iwan Simatupang
-   Catatan Harian Ahmad Wahib

Kumpulan Esai
-   Catatan Pinggir dan Kata, Waktu (Goenawan Mohamad)
-   Mangan Ora Mangan Kumpul dan Sugih tanpa Banda (Umar Kayam)
-   Faisal Baraas (Beranda Kita)
-   Puntung-Puntung Roro Mendut (YB Mangunwijaya)

Kumpulan Cerpen
-   Orang-orang Bloomington (Budidarma)
-   Lukisan Perkawinan (Hamsad Rangkuti)
-   Odah (Mohamad Diponegoro)
-   Leak (Faisal Baraas)
-   Tegak Lurus Dengan Langit (Iwan Simatupang)
-   Bromocorah (Mochtar Lubis)

SELESAI

-----> Sumber: PenaIndonesia

Recomended